Selasa, 31 Juli 2012

Pardon Me part.2

        Desi pun menghampiri Rara.
"Bukankah kita sudah membicarakannya kemarin? Harusnya kamu kan bilang 'iya' ke Dina!"bentak Desi.
"Denger ya! yang mutusin bilang 'iya' atau 'nggak' itu aku! Kan aku juga butuh waktu!"balas Rara dengan wajah yang mulai memerah.
        Rara pun meninggalkan Desi sendirian. Bel masuk pun berbunyi. kini, saatnya persiapan untuk pulang. Saat Desi dan Rani menghampiri Dina, wajahnya tampak pucat.
  "Dina, mengapa wajahmu pucat begitu?! apa kamu sakit? Sebaiknya kamu ke UKS saja", kata Rani.
  "Aku nggak apa-apa kok". Rani hanya terdiam. Tanpa sadar Dina telah meninggalkannya.
        Saat bel pulang hanya Dina yang masih duduk di bangkunya. Tiba-tiba, BRUAK!! Desi dan Rani yang masih berada di depan mintu begitu kaget dan segera meminta tolong kepada Bu Andin yang kebetulan ada di sekitar situ untuk membawa Dina ke UKS. Guru kesehatan pun memeriksanya.
       Beberapa saat kemudian, Tante Mira datang ke sekolah. Menurut guru kesehatan, Dina terserang demam karena kelelahan. Tante Mira pun membawa Dina pulang. Rani dan Desi tentu juga pulang ke rumah mereka masing-masing.
       Esoknya, Rara menghampiri Desi. dan bertanya.
  "Dimana Dina? Apa dia tidak mau mendengar penjelasanku?" katanya. Desi hanya diam saja. Mukanya memerah.
  "WOI!! Punya telinga gak sih?! Aku tanyanya serius nih!!". Desi mendekati Rara.
  "INI SEMUA SALAHMU!!! Kalau kau tidak menolaknya, dia tidak akan seperti ini!!" kata Desi membentak. Dia mendoro Rara hingga jatuh.
       Desi meninggalkan Rara sendirain. Rani pun menghampiri Rara. Dia mengulurkan tangannya untuk membantu Rara berdiri.
  "Nggak perlu! Aku bisa sendiri kok!" kata Rara dengan nada meremehkan.
  "Ditolongin malah gak mau! Kenapa sih kamu gak mau terima tawarannya Dina?! Liat apa yang terjadi?! Dia jadi demam tinggi semalam!".
  "gengsi dong! Lagi pula kenapa loe yang sewot!"
  "Aku cuma nggak mau liat temenku susah kayak gitu! Jadi aku mohon...." kata Rani memohon. Rara hanya terdiam dan meninggalkan Rani.
       Sore harinya, Desi dan Rani pergi ke rumah Dina untuk menujenguk temannya itu. Setelah sampai, mereka menemui Dina belum sadar dan terus mengigau.
  "Lebih baik kita pulang saja. Besok kita kesini lagi. OK?!" tanya Rani. Desi hanya mengangguk.
       Esoknya, setelah pulang sekolah Desi dan Rani kembali untuk menjenguk Dina. Ternyata, demamnya belum juga turun malah semakin parah. Akhirnya Rani punya ide untuk semua ini. Dia pergi ke rumah Rara dan menyuruhnya pergi ke rumah Dina.
  "Apaan sih?! Denger ya?! Semua ini adalah keputusanku! Jadi kalau aku ingin bertindak apapun itu terserah aku!" bentak Rara.
  "Apa kau tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang?! Karna kamu yang buat dia sakit, cepatlah datang kesana!". Rara menyerah dan mengikuti Rani. Sebenarnya dia sangat benci sekali melakukan hal ini. Tapi.. mau bagaimana lagi?
       Saat di jalan menuju rumah Dina tiba-tiba saja Rani mendapat telepon dari Desi.
  "Halo, Des! Ada apa?" tanya Rani.
  "Gawat, Ran! Sekarang Dina sedang dilarikan ke rumah sakit karna dia mulai merasakan sesak!"
  "APA?! Di rumah sakit mana?! TUNGGU! Kita akan segera menyusul!" kata Rani dengan penuh kebingungan.
  "Dia ada di Rumah Sakit Metropolitan".  Tiba-tiba saja teleponnya terputus.
       Rani segera menarik Rara dan berhenti di depan rumah sakit itu. Untung saja rumah sakit itu dekat.
  "Ngapain kita kesini?! Aku benci Rumah sakit! kau tahu itu kan?!" kata Rara dengan nada membentak.
  "Kamu tuh ya! aku harus bilang berapa kali sih! Dina itu sakit gara-gara kamu! sekarang kamu malah tanya lagi kenapa kita kesini?!" kta Rani membentak.
       Rani tak mempedulikan Rara lagi. Dia pergi ke tempat informasi.
  "Suster, kamarnya Dina Aura Setiadewi dimana ya?"
  "Di ruang IGD"
  "Makasih mbak"
       Rani menarik Rara dan berlari menuju ruang IGD. Disana mereka menjumpai Tante Mira dan Desi. Rara hanya berpaling muka dari mereka.
  "Tante, bagaimana keadaan Dina? Apa dia baik-baik saja?" tanya Rani. Wajah Tante Mira mendadak begitu muram dan sangat sedih. Sepertinya sesuatu yang gawat akan dialami Dina.
       Beberapa menit kemudian, Dokter keluar dari ruang IGD.
  "Dok, bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Tante Mira cemas.
  "Sepertinya kita harus membicarakan di ruang saya saja". Tante Mira mengangguk dan mulai berjalan di belakang dokter.
  "LIHAT SEMUA INI!! Semua gara-gara KAU!!!" bentak Desi kepada Rara.
  "Kenapa aku? Bukankah sudah ada yang mengatur semua ini? Jadi bukan seratus persen salahku kan?"
  "Sudahlah teman-teman, kita hanya bisa berdo'a. Lebih baik kita masuk untuk menengok Dina"
       Mereka membuka pintu dengan perlahan. Tampak oksigen yang dipasangkan di hidungnya dan dia belum juga sadar. Sepertinya dia semakin parah.
  "Din, cepatlah bangun! Aku nggak sanggup lihat kamu terbaring disini! Kumohon!" tangis Desi.
  "Din, sebelumnya aku minta maaf jika aku pernah berbuat salah. Tapi aku juga mohon, kau bangunlah, Din!". Rara hanya terdiam. Padahal hatinya ingin mengatakan sesuatu.
       Waktu terus berjalan. Tante Mira kembali ke ruangan Dina terbaring. Katanya, Paru-parunya ada yang bocor dan harus segera dioperasi. Tangis mereka samakin tak terbendung. Kecuali Rara.
  "Hhhmm... Tante! Saya minta izin mau pulang! Saya harus membantu ibu" tutur Rara. Tante Mira hanya mengakngguk karena tak kuasa menahan air matanya.
       Rara terhenti di kantin rumah sakit itu. Sebenarnya, ia tak mau pulang. Ada sesuatu yang ingin dia sampaikan pada Dina. Tapi dia harus menunggu waktu yang tepat. Tapi tak tersa hari semakin gelap. Rara terpaksa pulang. Begitu pun Desi dan Rani.
       Pada saat akan tidur, Rara teringat Dina. Dia masih ingin bertemu dengannya. Akhirnya dia memutuskan menyelinap untuk menjenguk Dina. Setelah sampai, dia berusaha mencari waktu agar Tante Mira tidak tahu. Setelah beberapa menit, akhirnya Rara menemukan celah. dia bisa masuk saat Tante Mira pergi ke musholah. Dia mengatakan semua yang ada di hatinya bahkan sampai menitikkan air mata.
  "Din, aku tahu aku penyebab semua ini! Tapi aku mohon maafkanlah aku. Sebenarnya aku ingin menerimamu. Tapi entah kenapa aku masih belum ingin...". Tiba-tiba Dina sadarkan diri.
  "Kamu udah bangun, Din?! Maafin aku ya, Din. Aku tahu aku salah. Sebagai gantinya terima ini! Ini uang untuk biaya operasimu. Aku ambil ini dari tabunganku dan ini surat untukmu. Maaf sekali aku tidak bisa berlama-lama disini. Aku harus pulang. Sampai besok ya! Lekas sembuh!"
         Saat akan pergi, Dina menarik tangan Rara. Dia tak ingin Rara pergi. Rara tak sanggup melihat ini semua. Dia melepaskan genggaman Dina, meski harus menitikkan air mata.
        Esoknya, Dina akan menjalani operasi. Berkat Rara yang telah membantunya. Meski Tante Mira tidak mengetahui pengirimnya. Tapi beliau tahu kalau pengirimnya orang baik-baik.
       Meski telah membaik, tapi kondisi tubuhnya msih lemah. Rani dan Desi begitu senang. Tapi mereka masih heran. Siapa yang mengirimkan uang itu? Mereka tak begitu peduli. Hari ini Dina sudah boleh pulang. Jadi mereka akan buat pesta selamat datang untuk Dina. Teman sekelas juga ikut membantu, kecuali Rara. Dia tidak mau ikut.

Singkat cerita,,,,

Setelah pesta selesai, semua anak pulang ke rumah masing-masing kecuali Rani dan Desi. Mereka membantu membereskan semuanya. Saat dua anak itu beres-beres, tiba-tiba Dina mendapat sebuah pesan dari seseorang agar dia datang ke taman depan rumahnya. Dia pun berjalan keluar tanpa sepengetahuan Ibunya maupun Sahabat-sahabatnya.
  "Hai, Dina! Apa kabar?"
  "Baik. Ada apa kamu memanggilku?"tanya Dina.
  "Aku cuma mau bilang. Kalau aku...."
  "Aku apa?"
  "Aku mau jadi sahabatmu, Din..". Mendengar itu Dina berkaca-kaca dan memeluk Rara. Rani dan Desi yang melihat itu ikut terharu. Mereka menghampiri Rara dan Dina, dan akhirnya mereka berempat berpelukan bersama,,,

So Sweet,,, ^_^
SELESAI,,,  
 

Jumat, 15 Juni 2012

Pardon Me part.1

           Hari ini adalah ulang tahun Desi, teman sekelas Rani. Mereka memberi ’SURPRISE’ yang sangat meriah. Disaat itu juga ternyata Dina, sahabat Desi merasa sedih sekaligus senang. Rani yang tahu hal itu mendatanginya.
 “Ada apa Dina?Kok kamu kelihatan sedih sekali?,” tanyanya.
“Oh, aku tak apa-apa kok. Kita nikmati saja hari ini,“balas Dina. Ia merasa terheran-heran dengan temannya itu. Beberapa menit kemudian acara selesai mereka semua pun pulang ke rumah.
            Sesampainya di rumah, Rani segera menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Aku merabahkan diri di tempat tidur.
“Aku heran pada Dina. Mengapa dia kelihatan tidak senang, ya? Padahal semua terlihat senang sekali. Aneh!,“, gumam Rani.
“Mungkin aku harus mendatanginya. Aku akan pergi ke rumahnya untuk bertanya,“lanjutnya. Dia pun pergi dengan tergesa-gesa. Sampai-sampai dia lupa berpamitan kepada ibu.
            Tak lama kemudian, Rani sampai di rumah Dina.
“Assalamu’alaikum,” ucapnya.
“Waalaikumsalam,” jawab seseorang yang ada di rumah Dina. Tiba-tiba pintu terbuka. Ternyata itu Tante Mira, ibu Dina.
“Ada apa Rani?Cari Dina, ya? Maaf, tapi Dina belum pulang,” kata Tante Mira.
“Oh, kalau begitu saya pulang dulu, tante. Mungkin nanti saya akan kemari lagi,” katanya. Tante Mira hanya mengangguk. 
            Rani segera pergi ke beberapa tempat yang biasa didatangi Dina. Tapi, ia tak menemukan Dina. Bahkan semua tempat yang Dina sukai. Karena tak tahan menahan haus, ia pun membeli minum.
“Pak, es kelapa muda: 1,“kata Rani. Tiba-tiba terdengar suara orang memesan es yang sama.
“Es kelapa muda: 1,“katanya. Aku menengok ke belakang. Ternyata itu Dina.
“Din, itu kamu? Akhirnya kita ketemu juga“.
            Dina tak berkata apa-apa. Dia hanya menghela nafas. Sekarang, Rani super bingung. Suasana menjadi hening. Setelah es kami diberikan, Dina langsung menghabiskannya dan segeera pergi. Rani tak sadar jika Dina telah meninggalkannya. Setelah minumannya habis, ia baru sadar dan segera membayar dan pergi mencari Dina.
            Sesampainya di taman, Rani mendapati Dina yang sedang menangis tersedu-sedu. Rani pun menghampirinya.
“Din, mengapa kamu menangis?,“tanya Rani.
“Ran, aku sungguh kehilangan sahabatku yang selalu setia menemaniku. Aku sangat sedih,“katanya.
“Memangnya siapa sahabatmu? Kenapa dia tega meninggalkanmu?,“tanya Rani lagi.
“Sahabatku adalah...., tapi jangan bilang ke siapa pun, ya?“,kata Dina.
“Ok! Aku tidak akan megatakannya kepada siapa pun!“
“Dialah sahabatku. Dan... juga Desi sahabatku,“kata Dina sambil menunjuk seorang anak yang sebaya denganku. 
          Dia tahu itu adalah Rara. Rara memang sangat dekat dengan Dina. Tapi, entah mengapa akhir-akhir ini dia menjauhi Dina. Ia kasihan pada Dina. Akhirnya, Rani mengantarkan Dina pulang ke rumah. Ia pun juga pulang ke rumah.
          Sesampainya di rumah, Rani merebahkan diri di atas tempat tidur.
“Mengapa Dina merasa sangat kahilangan sahabatnya. Padahal, Rara kan selalu dekat dengan Dina?“gumamku.
         Tiba-tiba mataku tertutup dan bermimpi indah. Di pagi hari, cahaya mentari bersinar memasuki jendela kamarku. Rani pun terbangun dan segera membereskan tempat tidurnya degan cepat.
“Waduh! Sudah jam 06.00! Aku harus cepat!”katanya. Dia pun segera turun dan mandi. Setelah itu, sarapan.
“Bu, bisa bawakan.... aku sandwich.... yang dibeli ayah malam-malam? Tapi cepat ya, bu!“ katanya sambil memakan sereal sebagai menu sarapan hari ini.
“Iya, tapi habiskan dulu makananmu yang ada di mulutmu!“pinta ibu. Dia segera manelan makanan yang ada di mulutnya sambil nyengir kuda. Setelah semua siap, Rani segera pamit dan berangkat ke sekolah.
          Ketika sampai di sekolah, dia melihat Dina sedang duduk sendiri di bangku taman yang hanya cukup untuk dua orang saja. Dia pun berlari menuju kursi taman dan duduk di sebelah Dina.
“Nggak masuk ke kelas? Sebentar lagi bel tuh! Oh,ya! Boleh gak aku duduk di sebelahmu?“tanyanya hingga membuat Dina terkejut.
“Sebentar lagi aku masuk kelas. Taruh saja tasmu di sebelah tasku. Cepet nanti keburu ditempati anak,lo!“ pinta Dina. Rani pun segera berlari menuju kelas. Untung dia tepat waktu, kalau tidak dia tidak jadi duduk dekat Dina. Tapi, Rani melihat seorang kebingungan hingga menghampirinya.
“Apa kamu mau deket Dina?“tanyanya pada Rani.
“Ngg.... . Nggak! Aku gak jadi deket Dina, kok. Kamu aja yang deket Dina! Nggak papa, kok!“Kata Rani. Desi pun pergi meninggalkanku. Rani pun mencari duduk lain. Akhirnya, kudapati di sebelah Rara dan tepatnya di belakang tempat Dina. Dia duduk dengan tenang dan memikirkan apa sebenarnya yang terjadi pada Dina?
          Teng...teng...teng..., lonceng tanda masuk telah berbunyi. Dina pun masuk kelas dengan santai diikuti Bu Andin(Guru kelas 6-2).
“Sssttt.... Dina! Belakangmu!“kata Rani pada Dina. Dina pun menengok ke belakang.
Dia langsung berlari ke tempat duduknya.
“Terima kasih, ya. Kau tidak jadi duduk di sebelahku?“tanya Dina.
“Tidak. Habis tadi Desi ingin dekatmu, sih!“balasnya.
“Ooohhh!!!“Dina hanya mengangguk. Lalu, Bu Andin memulai pelajaran pertama yaitu, matematika. Banyak anak yang tak suka dengan pelajaran matematika. Tapi, Rani berbeda. Dia sangat suka dengan matematika. Karena menurutnya sangat mudah dan juga menyenangkan. Sekarang, dia telah selesai mengerjakan soal nomor 1-5. Dan mendapatkan nilai sepuluh.
         
           Tak lama kemudian, lonceng istirahat berbunyi. Semua anak berhamburan keluar kelas kecuali Dina dan Desi. Rani tak jadi ke kantin karena kasihan melihat Dina. Rani pun menghampiri mereka.
“Lho, kalian tidak ke kantin?“tanya Rani kepada Dina dan Desi.
“Tidak. Karena hari ini Dina bawa bekal yang enak banget!“kata Desi sambil menawarkan nasi goreng spesial yang dibawa Dina.
“Boleh juga!“balas Rani. Mereka pun makan sambil bercanda bersama. Tak terasa sudah waktunya pelaajaran kedua yaitu, Ilmu Pengetahuan Sosial(IPS). Pelajaran itu sangat di benci Rani. Tapi, beda dengan Dina. Justru inilah pelajaran kesukaannya. Pelajaran IPS berlangsung membosankan sekali. Sampai pelajaran ketiga yaitu, PULANGGG!!!! Begitu senang hati Rani karena sekolah telai usai. Sebenarnya tidak murid-murid tidak pulang cepat. Tapi, karena guru-guru ada rapat, jadi hari ini pulang cepat!
          Sesampainya di rumah, Rani langsung merebahkan dirinya di tempat tidur. Begitu lelah rasanya hari ini. Segeralah Rani pergi ke mimpinya yang indah. Hari  sudah sore. Rani bangun dan langsung menyambar handphonenya yang berdering tanda ada SMS.                                                                                                      
          Rani segera menyambar handuk dan baju. Lalu segera mandi. Beberapa menit kemudian, ia segera meminta izin kepada ibunya. Ibunya pun membolehkannya. Ternyata benar di taman sedang ada pesta akhir tahun, pergantian tahun 2011 ke tahun 2012.
“Rani!!!“ teriak Desi. Rani hanya melambaikan tangan. Ia berlari menuju Desi, Dina, dan Rara.
“Lho, Dina sudah berbaikan dengan Rara? Bukannya....,“tanyaku pada Desi yang sedikit berbisik.
“Belum. Sebenernya Dina belum ngomong ke Rara. Tapi, dia ingin bilang sekarang. Padahal, aku sudah melarangnya,“balas Desi yang juga sedikit berbi
sik.
“Lho, kenapa kamu melarangnya? Bagus, kan kalau Dina cepet-cepet ngomong ke Rara?“ tanya Rani balik.
“Iya, sih. Tapi jangan ngomong di tempat ramai gini, dong!“ getak Desi.
“Iya-iya maaf. Tapi ngomongnya jangan keras-keras! Untung Dina sama Rara nggak denger,“kata Rani.
           Tiba-tiba terdengar suara letusan. Ternyata petasannya sudah diluncurkan.Semua menikmati pesta kembang api. Tapi, tidak dengan Dina. Dia terlihat sangat murung. Rani pun menghampirinya.
“Kenapa kau tampak murung terus? Bukannya kau sudah berbaikan dengan Rara?“tanya Rani.
“Kata siapa? Aku belum jadi sahabatya, kok,“balas Dina.
“Aku tahu caranya!“Rani berbisik kepada Dina. Dina hanya mengangguk. Mereka pun bergabung dengan yang lain. Bersenang-senang hingga larut malam. Dan, sekaranglah puncaknya. Jam menunjukkan pukul 12.00 p.m. dan inilah saat yang mereka nantikan yaitu, puncak dari semuanya.
CIIITTTT!!DOORR!!!
         Setelah bunyi itu berlalu Rani memutuskan untuk pulang. Begitu juga teman-temannya. Sampai di rumah ia langsung mmengambil pop corn dan menyalakan televisi. Karena sangat lelah, Rani pun tertidur.
         Tak terasa sudah lama Dina mencoba bicara dengan Rara. Tapi, ia tetap ragu. Ia berpikir, mungkin Rara tidak akan pernah mau menerima Dina. Sekarang, ia sudah putus asa untuk bicara pada Rara. Rani dan Desi telah menyemangatinya. Tapi, tetap saja tak ada perubahan. Akhirinya Rani mencoba idenya yang mungkin akan membuat Dina bangkit.
“Din, kalau kamu nggak mau mencoba bicara pada Rara aku tidak akan membantumu lagi. Dan, aku juga tidak mau berteman denganmu lagi! Bagaimana? Kamu mau mencoba atau tidak? Aku tunggu jawabanmu sepulang sekolah!“kata Rani. Ia pun meninggalkan Dina dan Desi seorang diri di kelas. Dina tampak bingung dia harus melakukan apa? Dia sudah menyerah untuk mendapatkan Rara. Bahkan salah seorang dari ’Triple Melon’ (sebuah kelompok di kelas Rani) marah karena merasa Dina telah merebut Desi.
“Des, kurasa aku akan bilang hari ini juga!“kata Dina penuh keyakinan.
“Kau yakin?“tanya Desi
“Aku yakin! Aku tak ingin kehilangan sahabat untuk kedua kalinya!“timpal Dina.
          Saat pulang pun tiba. Rani menunggu Dina dan Desi di gerbang sekolah.
“Bagaimana?“tanya Rani.
“Aku putuskan, hari ini dan saat ini juga aku akan bicara pada Rara!“balas Dina. Rani tak menyangka siasatnya pun berhasil juga. Tapi, ini juga diluar dugaan Rani, karena dia kira Dina tidak akan melakukannya secepat ini. Dina pun menghampiri Rara.
“Ra, boleh nggak aku ngomong sesuatu ke kamu?“tanya Dina.
“Boleh. Tapi, cepet,ya. Aku sudah di jemput, tuh!“kata Rara. Dina hanya mengangguk.
“Sebenernya......,“kata Dina. Matanya sudah berkaca-kaca.
“Sebenarnya apa?!!“bentak Rara. Semua anak mulai mengerumuni mereka.
“Sebenarnya..... aku mau m... min..ta maaf ke.. kamu. Hiks...hiks..., aku... pi..ngin... kamu.... baikan.... sama...aku...,“kata Dina terisak-isak.
“Baikan? Emang aku salah apa?“tanya Rara.
“Kamu ...mau, kan ja.....,“tak sempat mengatakannya, ayah Rara sudah memanggil Rara untuk pulang. Dina pun hanya bisa menangis. Ia berlari manuju mobil yang akan membawanya pulang. Begitu juga Rani. Ia segera pulang.
          Sesampainya di rumah, Rani ganti baju dan pergi keluar. Ia menuju taman. Setelah sampai, ia mengambil handphone dari sakunya. Ia meminta Desi dan Rara datang ke taman.
“Halo, assalamu’alaikum. Des, sekarang kamu ke taman, ya? Aku juga mau ngajak Rara. Bicara’in Rara sama Dina!“kata Rani
“iya. Emang kamu mau suruh Dina bilang ke Rara di taman?“tanya Desi.
“Nggak. Aku nggak ngajak Dina. Aku mau bilang ke Rara kalau Dina pingin jadi sahabatnya. Terus, besok tinggal kita suruh Rara bilang 'iya' waktu Dina bilang itu,“jelas Rani.
“Ooohhh!!! Yaudah. Kalau begitu aku mau ganti baju dulu!Dah!!“kata Desi. Lalu, saatnya Rani menghubungi Rara. Akhirnya pun mereka datang. Mereka pun berbincang-bincang.
          Hari besok pun tiba. Rani dan Desi menyemangati Dina agar dia mau mencobanya lagi. Dan akhirnya dia mau.
“Ra, mau... nggak kamu jadi s....,“kata Dina.
“Jadi apa?“tanya Rara.
“S...sa...habatku,“kata Dina.
“Ehhm.... bagaimana, ya?Bisa nggak kamu kasih aku waktu?Kira-kira sampai besok?“tanya Rara. Dina hanya mengangguk. Lalu, ia meninggalkan mereka bertiga di taman. Rani dan Desi segera menarik tangan Rara. Muka mereka manmpakkan wajah kesal.


Apakah Rara mau akan menerima Dina sebagai sahabatnya?'Nantikan part 2-nya ya....'

Sabtu, 16 April 2011

Rasulullah

Rosulullah....
Betapa besar pengorbananmu
Pengorbanan demi umat islam
Pengorbanan dem umatmu

Engkau suri tauladan yang baik
Engkau rahmat bagi seluruh alam
Engkau pelita dalam kegelapan
Engkau embun yang menyejukkan hati

Kau juga pemimpin yang hebat
Pemimpin umat islam
Pemimpin yang tak pernah mengeluh menyebarkan islam

Banyak orang yang merindukanmu
Banyak orang yang menyukaimu
Dan juga banyak orang yang ingin sepertimu
Allahumma sholli ala muhammad

Karya : Umaimah
Surabaya, 21 Maret 2011